Anak gue umur enam tahun. Dan tiap pagi, sebelum gue sempat menyeruput kopi, dia sudah berdiri di depan pintu kamar mandi sambil bertanya, "Ayah, kita ke mana hari ini?"
Dulu gue pikir itu pertanyaan polos. Lama-lama gue sadar, itu cara dia mengecek apakah gue masih ada. Karena minggu lalu gue baru pulang dari Surabaya, minggu ini ada meeting di Jakarta, dan bulan depan sudah ada tiket ke Makassar yang terlanjur dibeli kantor.
Baca juga: Kenapa Anak Kos Lebih Dekat ke Teman daripada ke Ortu?
Kalau kamu orang yang sering bepergian—entah karena kerja, usaha, atau urusan keluarga—mungkin kamu pernah ada di posisi gue. Dan mungkin kamu juga sering dengar pertanyaan yang sama dari orang lain: "Gimana caranya biar anak tetap dekat sama orang tua yang jarang di rumah?"
Ini jawaban gue. Bukan teori dari buku parenting, tapi hasil trial and error bertahun-tahun, plus beberapa kali gagal yang bikin gue mau nangis di bandara.
Sebenarnya Anak Butuh Seberapa Sering Kita Hadir?
Pertanyaan ini yang paling sering muncul di DM atau obrolan sama teman sesama pekerja lapangan. Jawabannya mungkin bikin lega: frekuensi bukan segalanya, tapi konsistensi iya.
Gue pernah baca riset yang bilang kualitas interaksi lebih penting daripada kuantitas waktu. Tapi gue nggak mau terlalu akademis di sini. Yang gue rasain sendiri: anak gue lebih ingat momen gue benar-benar fokus sama dia—walau cuma 20 menit—daripada satu hari penuh di rumah tapi gue sibuk sama laptop.
Jadi kalau kamu cuma punya waktu tiga hari di rumah sebelum berangkat lagi, jangan buang waktu buat scroll HP sambil nemenin anak main. Duduk di lantai, ikut main lego, dengerin cerita sekolahnya yang kadang nggak jelas ujung pangkalnya. Itu yang nempel.
Anak nggak menghitung berapa hari kamu di rumah. Dia mengingat bagaimana rasanya waktu kamu ada.
Ritual Kecil yang Bikin Anak Nggak Merasa Ditinggal
Ini bagian yang paling sering gue sharing ke teman-teman yang baru punya anak dan pekerjaannya mulai banyak di luar kota. Ada beberapa ritual yang akhirnya jadi kebiasaan di rumah kami, dan sejauh ini lumayan ampuh.
Video call yang nggak cuma "Udah makan belum?"
Gue tahu, video call kadang terasa formal dan canggung. Apalagi kalau anaknya masih kecil dan lebih tertarik sama kucing di belakang layar. Tapi coba ubah isi percakapannya. Jangan cuma tanya makan atau PR. Minta dia tunjukin mainan barunya, atau minta dia cerita adegan film yang bikin dia ketawa.
Gue biasanya video call pas jam makan malam. Jadi kami "makan bareng" lewat layar. Kedengeran norak? Iya. Tapi anak gue nunggu-nunggu momen itu, dan dia jadi punya rutinitas yang nggak berubah walau gue lagi di kota lain.
Titip pesan sebelum berangkat
Sebelum ke bandara, gue selalu sempatin nulis catatan kecil dan gue tempel di pintu kulkas. Isinya sederhana: "Ayah pulang hari Jumat. Jangan lupa siram tanaman." Atau kadang cuma gambar stickman jelek yang gue bikin buru-buru.
Anak gue simpan semua catatan itu di kotak sepatu bekas. Waktu gue tanya kenapa nggak dibuang, dia bilang, "Buat dibaca kalau Ayah lama nggak pulang." Gue hampir nangis waktu itu, jujur.
Yang Sering Ditanyakan: Gimana Kalau Anak Mulai Dingin?
Ini pertanyaan kedua yang paling sering masuk. Dan gue paham banget rasanya. Ada masa di mana anak gue lebih milih main sama sepupunya daripada video call sama gue. Waktu gue pulang, dia sempat kaku beberapa jam sebelum akhirnya hangat lagi.
Yang gue pelajari: jangan panik, dan jangan maksa. Anak butuh waktu buat "warming up" lagi. Yang penting kamu konsisten muncul—walau cuma lewat suara, walau cuma lewat pesan singkat. Anak yang merasa ditinggal biasanya bukan karena orang tuanya pergi, tapi karena orang tuanya hilang tanpa kabar.
Jadi jangan cuma kabarin kalau mau pulang. Kabarin juga kalau lagi sibuk, kalau lagi capek, kalau meeting-nya molor. Anak kecil juga bisa belajar bahwa orang tua mereka tetap ada, cuma kadang sinyalnya jelek.
Buat Pasangan yang Tinggal di Rumah: Jangan Lupa Dia Juga
Ini yang sering kelewat. Kita fokus banget sama anak, sampai lupa kalau pasangan yang nemenin anak tiap hari juga butuh dukungan. Dia yang ngurus sekolah, ngurus makan, ngurus drama pagi hari sendirian.
Gue belajar buat selalu tanya kabar pasangan dulu sebelum tanya kabar anak. Kadang cuma lewat chat singkat: "Hari ini gimana? Capek nggak?" Nggak perlu panjang. Yang penting dia tahu kalau dia nggak sendirian ngurus semuanya.
Dan satu lagi: waktu kamu pulang, jangan langsung mode "libur". Bantu beresin rumah, antar anak sekolah, masak bareng. Anak lihat itu semua. Dia belajar bahwa keluarga itu tim, bukan dua orang yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Jadi, Harus Berhenti Bepergian?
Nggak juga. Gue nggak percaya orang tua harus mengorbankan karier atau pekerjaan buat jadi orang tua yang "sempurna". Yang gue percaya: anak butuh orang tua yang hadir secara emosional, bukan cuma hadir secara fisik.
Kamu bisa pergi ke luar kota tiap minggu dan tetap jadi orang tua yang dekat. Asal kamu benar-benar ada waktu kamu ada. Bukan setengah-setengah. Bukan sambil mikirin deadline.
Besok pagi anak gue bakal nanya lagi, "Ayah, kita ke mana hari ini?" Dan gue bakal jawab jujur: "Ayah ke kantor, tapi nanti malam kita baca buku bareng." Dia bakal manggut-manggut, lalu lari ambil sepatu. Kecil, sederhana, tapi itu yang bikin kami tetap nyambung.
Kalau kamu juga sering bepergian, coba mulai dari satu ritual kecil minggu ini. Nggak perlu langsung sempurna. Anak kamu nggak butuh orang tua yang sempurna—dia cuma butuh tahu kalau kamu selalu balik.