Ada satu pertanyaan yang sering banget muncul di kolom komentar tulisan-tulisan gue soal keluarga: "Gue kan baru mulai hidup sendiri, belum punya anak, kenapa sih harus mikirin soal ngasuh anak?"
Jujur, dulu gue juga sempat mikir gitu. Buat apa repot-repot belajar soal pola asuh kalau belum ada bayi yang nangis jam 3 pagi? Ternyata jawabannya nggak sesederhana itu. Dan tulisan ini bakal bahas pertanyaan-pertanyaan yang paling sering ditanyain anak muda soal hubungan keluarga dan ngasuh anak — dari sudut pandang orang yang juga masih belajar.
Kenapa anak muda yang belum punya anak perlu peduli soal pola asuh?
Ini pertanyaan nomor satu yang paling sering masuk. Jawaban singkatnya: karena kamu dulunya adalah anak yang diasuh. Dan cepat atau lambat, kamu bakal jadi orang yang mengasuh — entah itu adikmu, keponakanmu, atau anakmu sendiri nanti.
Gue ingat waktu pertama kali tinggal sendiri di kota lain. Awalnya bebas banget, nggak ada yang ngatur. Tapi begitu pulang kampung dan lihat adik gue yang masih SMP lagi berantem sama orang tua, gue sadar sesuatu. Gue nggak bisa cuma jadi penonton. Gue ikut campur, dan ternyata cara gue ngomong ke adik gue itu hasil copy-paste dari cara orang tua gue ngomong ke gue dulu.
Baca juga: Sibuk Bukan Alasan: Cara Simpel Tetap Dekat dengan Anak
Nah, di situ poinnya. Pola asuh itu bukan cuma soal bayi dan popok. Ini soal bagaimana kamu memperlakukan orang yang lebih muda atau lebih rentan dari kamu. Dan itu dimulai jauh sebelum kamu punya anak.
Kamu nggak perlu jadi orang tua dulu buat belajar jadi orang dewasa yang sehat secara emosional.
Apa yang paling sering salah dipahami soal "keluarga harmonis"?
Banyak anak muda tumbuh dengan bayangan keluarga harmonis itu berarti nggak pernah ada konflik. Nggak pernah berantem, nggak pernah beda pendapat, semua senyum. Kalau kamu percaya itu, siap-siap kecewa.
Keluarga yang sehat bukan yang nggak pernah ribut. Keluarga yang sehat adalah yang tahu cara beresin ributnya. Bedanya besar banget. Gue punya teman yang keluarganya kelihatan adem ayem dari luar, tapi begitu ada masalah kecil, semuanya diam dan saling menghindar berbulan-bulan. Sementara keluarga lain yang kelihatannya berisik dan sering debat, justru lebih cepat baikan karena mereka terbiasa ngomong jujur.
Jadi kalau kamu merasa keluargamu "berantakan" karena sering beda pendapat, belum tentu kok. Yang penting adalah apakah setelah ribut ada ruang buat ngobrol lagi. Kalau iya, itu tanda yang bagus.
Terus, gimana kalau keluargaku nggak kayak gitu?
Ini bagian yang agak berat. Nggak semua orang beruntung punya keluarga yang bisa diajak ngobrol. Kalau kamu di posisi ini, kamu nggak harus memaksakan keharmonisan yang nggak ada. Yang bisa kamu lakukan adalah mulai dari diri sendiri: belajar mengelola emosi, belajar minta maaf, belajar bilang "aku nggak nyaman" tanpa harus teriak.
Kedengarannya klise, tapi ini yang beneran ngefek. Karena siklus pola asuh itu bisa diputus. Kamu nggak wajib mengulang apa yang orang tuamu lakukan kalau itu melukai. Dan kesadaran itu biasanya muncul justru saat kamu mulai hidup mandiri seperti sekarang.
Gimana cara mulai belajar ngasuh kalau belum ada anak?
Pertanyaan ini sering banget muncul, terutama dari anak rantau yang jauh dari keluarga. Kabar baiknya, ada beberapa hal kecil yang bisa kamu lakukan sekarang tanpa harus punya anak dulu.
- Latih kesabaran di hal sepele. Nunggu antrean, dengerin teman curhat tanpa motong, atau nggak langsung marah waktu ada yang bikin kesal. Ini fondasi banget buat ngasuh nanti.
- Belajar mendengarkan tanpa menghakimi. Coba deh, sekali-sekali ngobrol sama adik atau sepupu tanpa langsung ngasih solusi. Kadang mereka cuma butuh didengar.
- Kenali luka masa kecilmu sendiri. Ini yang paling nggak enak tapi paling penting. Kalau kamu tahu hal apa yang dulu bikin kamu sedih sebagai anak, kamu bisa lebih hati-hati supaya nggak ngulangin ke generasi berikutnya.
- Baca dan diskusi. Nggak perlu baca buku tebal soal parenting. Podcast, thread, atau obrolan sama teman yang sudah punya anak juga bisa jadi bahan belajar.
Gue sendiri mulai sadar banyak hal justru dari obrolan receh sama teman yang sudah jadi orang tua. Mereka cerita soal anaknya yang susah makan, dan gue jadi inget dulu gue juga gitu. Rasanya jadi lebih empatik, dan itu modal penting buat hubungan keluarga ke depannya.
Apa yang bikin hubungan keluarga jadi renggang padahal sudah dewasa?
Banyak anak muda yang baru mandiri tiba-tiba merasa jauh dari keluarganya. Bukan karena benci, tapi karena sibuk, jarak, atau canggung. Ini normal banget, dan hampir semua orang mengalaminya.
Yang sering bikin masalah adalah ketika rasa jauh itu dibiarkan menumpuk. Kamu nggak pernah telepon, orang tua juga nggak mau ganggu, akhirnya komunikasi cuma lewat transferan bulanan. Lama-lama jadi stranger yang kebetulan satu marga.
Solusinya nggak harus berat. Kadang cukup kirim pesan singkat, foto makanan yang kamu masak, atau tanya kabar tanpa maksud apa-apa. Hal-hal kecil ini yang menjaga benangnya tetap nyambung. Gue sendiri dulu sering nunda-nunda telepon orang tua karena mikir "nanti aja kalau ada waktu panjang". Ternyata nggak pernah ada waktu yang pas. Jadi ya, telepon aja walaupun cuma lima menit.
Kalau hubungannya sudah telanjur renggang, bisa diperbaiki nggak?
Bisa, tapi jangan berharap langsung balik kayak dulu. Mulai dari hal kecil, dan jangan menuntut perubahan instan dari pihak lain. Kadang yang perlu diperbaiki bukan cuma komunikasi, tapi juga ekspektasi kita sendiri soal bagaimana keluarga "seharusnya" bersikap.
Yang penting, kamu nggak perlu nunggu jadi orang tua dulu buat mulai peduli soal pola asuh dan hubungan keluarga. Justru sekarang, saat kamu masih muda dan sedang belajar hidup mandiri, ini waktu yang pas buat membangun kesadaran itu. Nggak harus sempurna, kok. Cukup mulai dari sadar, lalu pelan-pelan berubah.
Karena pada akhirnya, keluarga bukan soal siapa yang paling benar. Tapi soal siapa yang mau tetap hadir, bahkan ketika sedang sama-sama belajar jadi dewasa.